Asal Usul Desa Kedewatan
Penelusuran sejarah Desa Pakraman Kedewatan tidak dapat dilepaskan dari perjalanan Dharmayatra dan Tirtayatra Maharsi Markandya dari Desa Damalung di kaki Gunung Adihyang (Dieng) (sekarang termasuk dalam wilayah Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah). Dari Gunung Adihyang ini kemudian Maharsi Markandya melanjutkan perjalanan menuju Jawa Timur, tepatnya di Gunung Raung (sekarang termasuk dalam wilayah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur). Di Gunung Raung inilah Beliau melakukan tapa, brata, yoga, dan samadhi sehingga mendapatkan pawisik untuk melanjutkan perjalanan menuju Gunung Agung yang berada di tanah Balidwipa. Dalam perjalanan suci inilah dapat ditelusuri asal-usul berdirinya desa-desa adat disekitar Munduk Gunung Lebah dan Campuhan Tukad Yeh Wos Kiwa-Tengen atau Lanang-Wadon, seperti Desa Adat Ubud, Desa Adat Kedewatan, Desa Adat Payogan, Desa Adat Lungsiakan, Desa Adat Payangan, Desa Adat Taro, Desa Adat Puakan, dan 11 banjar lainnya.
Menurut sumber Riptaprasasti, sebagaimana juga diteukan dalam Lontar Bhawantattwa Maharsi Markandya, diceritakan bahwa Maharsi Meru mengambil seorang istri yang kecantikannya nyaris sempurna. Entah berapa tahun sudah kedua dampati ini menjalani kehidupan berumah tangga sehingga akhirnya berputra dua orang. Putra sulungnya bergelar Sang Ayati, dan yang bungsu bergelar Sang Niata. Kedua putra beliau ini tumbuh menjadi pemuda yang tampan, bijak dan memahami isi sastra agama. Setelah keduanya tumbuh dewasa dan berumah tangga, maka Sang Ayati berputra Sang Prana, sedangkan Sang Niata berputra Sang Mrekanda. Kemudian Sang Mrekanda menikahi Dewi Manaswini dan melahirkan Sang Markandya.
Kemudian Maharsi Markandya, beristrikan Dewi Dumara. Dari perkawinan tersebut lalu menurunkan Maharsi Dewa Surah, yang kemudian beristrikan Dewi Wipari, yang menurunkan banyak putra. Demikian dikemukakan asal usul Maharsi Markandya.
Selanjutnya dikisahkan kembali perjalanan Maharsi Markandya dari Gunung Raung yang menurut lontar Markandya Purana, juga disebut Gunung Dewata, menuju Gunung Agung di Balidwipa mandala. Pada waktu masih melakukan rapa, brata, yoga, dan samadhi di Gunung Raung atau Bukit Dewata (Jawa Timur), Maharsi Markandya mendapat pawisik Sang Hyang Prajadipha atau Sang Hyang Jagatnatha agar membina dan melakukan yasakerti terhadap kawasan desa-desa di kaki Gunung Agung. Kahyangan Sang Hyang Pasupati, yang berasal dari salah satu puncak Gunung Semeru di Jawa Timur. Setelah mendapat pawisik itu kemudian Maharsi Markandya mengumpulkan 800 orang gunung untuk mengiringnya ke Gunung Agung di Balidwipa Mandala.
Tidak diceritakan perjalanan pengiring di bawah pimpinan Maharsi Markandya dari Gunung Raung menuju Gunung Agung. Akhirnya sampailah dengan selamat rombongan Maharsi Markandya dengan 800 orang gunungnya di Gunung Agung. Kemudian Maharsi Markandya memberi petunjuk agar pengiringnya membuat pondok untuk beristirahat di hutan belantara di kaki Gunung Agung tersebut. Setelah semua pengiring membuat pondok, Maharsi lalu memerintahkan agar semua pengikutnya mulai merabas hutan di kawasan Gunung Agung yang angker. Setelah para pengikut Sang Maharsi merabas hutan beberapa hari, tiba-tiba langit menjadi mendung dan hujan lebatpun turun, layaknya air dicurahkan dari langit saja. Hujan lebat itu disertai kilat yang menggelegar sambung menyambung sehingga kawasan hutan itu seperti diguncang badai. Hujan tidak pernah reda selama tujuh bulan sehingga kawasan Gunung Agung kebanjiran, semua lembah penuh dengan genangan air, seolah-olah dunia akan pralaya di akhir yuga.
Kondisi alam ini mengakibatkan banyak pengiring Sang Maharsi sakit mendadak dan kemudian meninggal. Pengiring yang masih hidup menggotong pengiring yang telah meninggal itu untuk menguburkannya. Pengiring Maharsi yang semua berjumlah 800 orang sekarang hanya tersisa 200 orang saja yang masih hidup.

Komentar
Posting Komentar